REVIEW - Sing Street
Saya kira Sing Street akan hadir sebagai film coming of age dengan bumbu romantis yang ringan dan menyenangkan. Sampai beberapa menit berjalan ternyata karakter dalam film ini mulai mengumpulkan orang-orang untuk membuat band. Yap, Sing Street adalah film coming of age dengan bumbu musik di dalamnya.
Apakah seperti film-film band kebanyakan? tentu saja, tetapi apa yang membedakan Sing Street dengan film lain terletak pada konklusinya yang sepertinya akan memecah belah penonton.
Ditengah faktor ekonomi yang memburuk, Conor (Ferdia Waish Peelo) terpaksa harus pindah sekolah ke Synge Street. Di sana dia bertemu dengan seorang gadis misterius bernama Raphina (Lucy Boynton).
Untuk mendapatkan perhatiannya, Conor akhirnya membentuk sebuah band dengan beberapa murid lainnya.
Tak perlu tunggu lama, Sing Street terlihat terburu-buru di awal untuk membentuk sebuah band agar bisa menggerakkan cerita. Saking terburu-buru, terkadang kamu akan berpikir jika ini semua terlalu cepat untuk dibuat.
Untungnya tempo film semakin stabil seiring mereka berkumpul, babak dua terasa lebih rapi dari segi cepat lambatnya cerita bergulir.
Namun ceritanya tidak demikian, semakin ujung saya rasa fokus filmnya juga jadi berantakan (atau sebenarnya tidak?). Dari awal, Conor membuat band untuk mencari perhatian wanita, dan ketika band tersebut berhasil menarik perhatian wanita tersebut, apa yang akan Conor lakukan?
Ya, keputusan Conor di akhir untuk lebih memilih wanita daripada bandnya sendiri memang terlihat sangat egois.
Mungkin memang itu yang diinginkan John Carney dan Simon Carmody saat membuat cerita, alih-alih fokus pada band tersebut, mereka justru fokus pada cerita romantis.
Terasa sekali jika pendalaman karakter semua personil Sing Street selain Conor tidak diceritakan dengan baik. Padahal mereka semua memiliki latar belakan dan watak yang unik untuk digali satu persatu.
Besar sekali potensi yang bisa John Carney gali, tetapi dia malah memilih jalan lain untuk menyajikan Sing Street.



Komentar
Posting Komentar