REVIEW - THUNDERBOLTS*

 



Sadar gak sih kalian, saat ini menonton film dan serial Marvel seperti mengerjakan sebuah pekerjaan rumah yang wajib dikumpulkan? 

Hal diatas yang dirasakan Kevin Feige beberapa waktu ke belakang. Banyaknya serial dan film imbas dari tuntutan layaran streaming Disney membuat Marvel akhirnya harus meninggalkan mantra-mantra ajaib di setiap karya yang mereka hasilkan. Tuntutan benang merah cerita di setap film dan serialnya juga sekarang malah menjadi beban tersendiri untuk penonton seakan dipaksa untuk terus mengonsumsi olahan mereka entah bagaimana pun rasanya.

Dari kesadaran tersebut mereka akhirnya bebenah lagi lewat film ini. Film yang menjadi awal baru untuk Marvel membangkitkan kembali mantra-mantra yang dulu. Namun, apakah keajaiban Thunderbolts benar-benar bekerja?

Memberi sudut pandang lain dari sosok "antihero" yang biasanya kuat, Thunderbolts mengenalkan kita lebih dalam pada kehampaan dan kerapuhan tiap karakter yang ditampilkan. Isu mental healt yang diangkat sebenarnya cukup membuat cerita dalam film ini terasa membumi dan mudah menyentuh hati, membuat penonton merasakan sisi manusiawi dalam diri mereka sendiri.

Itu adalah cara terbaik dari Eric Person, Lee Sung Jin, dan Joanna Calo sebagai penulis agar penonton mempunyai koneksi sangat dekat dengan para anggota Thunderbolts.

Tak hanya itu saja yang jadi modal utama. Dinamika antar karakter serta pengembangannya juga jadi satu hal yang sangat asyik untuk disaksikan. Karakter-karakter yang keras kepala dengan kepribadian unik dikumpulkan dan menjadi kombinasi sempurna untuk menopang semua sajian-sajian komedi yang ada.

Di sisi lain, Thunderbolts juga tidak lupa dengan jatidirinya sebagai film "Superhero". Beberapa adegan heroik yang ditampilkan sangat cukup untuk penonton terbawa suasana. Spoiler kecil, salah satunya ketika adegan pertama Bucky menunjukkan kekuatannya.

Namun sayangnya, kelebihan di atas juga pada akhirnya menjadi kekurangan. Ketika para penulis mengambil pendekatan ini, beberapa karakter akhirnya tidak mempunyai porsi yang cukup agar lebih dikenal dan membuat kita lebih simpatik. Screentimenya banyak, tapi kita gak punya koneksi sedekat itu seperti karakter lainnya.

Pun di adegan klimaksnya yang menempuh jalur pendewasaan mungkin jadi hal baru bagi Marvel, perjalanan spiritual untuk membuat villain menghilang memang tidak dibumbui dengan adegan-adegan heroik melawan para penjahat, tapi memang konklusi tersebut suka tidak suka sejalan dengan konsep film dari awal. Masuk akal, tapi sedikit kurang entertaining untuk menjadi ending.

Pada akhirnya, untuk menjadi sebuah awal yang baru, Thunderbolts berhasil membuat nafas baru untuk Marvel kedepannya ketika mereka ingin mencoba hidup kembali dari mati suri yang fana.

Komentar

Postingan Populer