MEMBICARAKAN BUKU LELAKI HARIMAU

 



Ada satu sensasi yang selalu saya cari ketika membaca buku crime mystery, menebak siapa pembunuhnya dan bagaimana cara dia bisa keluar dari sana lewat alibi-alibi yang dia buat. Pun dari perspektif protagonis, melihat cara dia memecahkan misteri dan beradu logika dengan antagonis jadi salah-satu pengalaman membaca yang selalu ditunggu-tunggu.

Cukup hal itu yang membuat saya akhirnya sangat tertarik membaca buku "Lelaki Harimau" yang mengangkat tema serupa. Soal Margio yang ditemukan oleh Ma Soma dengan tubuh penuh darah membunuh Anwar Sadat secara brutal, namun Margio membantah membunuhnya, harimau dalam dirinya lah yang melakukan hal tersebut.

Kala penulis lain berlomba-lomba membuat misteri yang bisa meledakkan kepala dengan plot twist yang bertebaran di sana-sini, Eka Kurniawan hadir dengan perspektif lain yang jauh menggali motif terjadinya pembunuhan tersebut. Jauh sekali berkenalan dengan Margio dan keluarga serta lingkungannya yang punya pengaruh besar untuknya.

Alurnya yang mundur menarik pembaca untuk lebih memahami manusia-manusia yang ada di sana. Dari Margio anak baik yang menyimpan rahasia sampai Komar Bin Syueb ayahnya yang keras dan tidak beradab.

Sungguhan, bab satu buku ini adalah salah satu pengalaman paling menegangkan yang pernah saya rasakan selama membaca. Ketika biasanya konflik berada di akhir cerita, Lelaki Harimau tak ambil ancang-ancang ketika kalimat pertama buku ini saja berbunyi "Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat."

Awalnya berpikir Eka Kurniawan punya rasa percaya diri yang sangat tinggi, selalu bertanya tanya bagaimana dia akan membuat ceritanya tetap mempunyai pace yang konsisten ketika dari bab pertamanya saja sudah seperti bagian puncak cerita. 

Ternyata secara menyenangkan dia bisa mempertahankan titik menarik Lelaki Harimau, treatment terus mundur lebih jauh dari satu bab ke bab lain memunculkan rasa penasaran mengapa Margio bisa membunuh Anwar Sadat. 

Curang rasanya Eka Kurniawan tidak perlu memikirkan bagaimana memecahkan teka-teki pembunuhan Anwar Sadat secara teknis. Semuanya terasa on point, tegas dan berantakan, seolah pembaca tidak perlu memikirkan hal lain karena semuanya sudah jelas. Eka tidak bermain dengan logika pembaca, dia bermain dengan perasaan pembaca.

Karena percayalah, semakin jauh membaca buku ini, semakin banyak perasaan campur aduk yang bergumul di dalam hati. Marah, senang, sedih, kecewa dan semua hal yang ada di muka bumi ini terasa dihabiskan hanya dalam satu buku. Bagaimana bisa, ceritanya sangat menyakitkan namun masih bisa membuat salting saat bagian romantis cheeze datang,

Salah satu kunci yang saya tangkap ketika membaca Lelaki Harimau adalah bagaimana sangat baik sekali Eka Kurniawan memberikan ruang empati pada karakternya. Dia selalu memberikan motivasi dari setiap sebab akibat yang dialami semua karakternya. Hal itu yang menjadikan sebagian besar karakter dalam Lelaki Harimau terasa nyata.

Dengan gaya basanya seperti ayah yang sedang berdongeng untuk anaknya ketika malam tiba, Seluruh kalimat dalam buku ini mengalir dengan lancar, penggambaran metafora-metafora yang tidak belebihan, puitis namun tidak membuat bulu kuduk pembaca merinding jijik membacanya.

Selalu menyenangkan rasanya ketika motif karakter digali lebih dalam pada sebuah cerita, belajar memahami manusia dan kompleksitasnya selalu sangat menarik untuk dibaca. 

Overall Lelaki Harimau adalah dongeng Eka Kurniawan yang berhasil bikin bengong beberapa saat ketika selesai membaca dan buat saya ngomong "Tadi habis baca apa?"

Komentar

Postingan Populer