REVIEW - Suzume





Siapa yang tidak kenal dengan Makoto Shinkai, sutradara asal Jepang yang saya kenal setelah film Your Name. meledak di pasaran membuat dia menjadi salah satu sutradara yang ingin saya ajak kenalan.

Jujur saja, saya belum pernah menonton film-film beliau sebelumnya, baru Suzume saja yang bisa saya jumpai. Namun dengan perjumpaan kita hari ini, sepertinya saya ingin berkenalan lebih jauh lagi.

Cerita berfokus pada petualangan seorang remaja kelas 2 SMA dan seorang mahasiswa yang dikutuk menjadi kursi untuk menutup "gerbang-gerbang" tertentu agar kejadian buruk tidak menimpa Jepang.

Premis yang menarik dan trailer yang asik buat saya  kepincut dengan film ini. Bagaimana melihat petualangan seorang remaja dan sebuah kursi nampaknya baru bagi saya pribadi.

Opening Suzume yang sudah darderdor mampu membuat penonton dibawa tegang tanpa ancang-ancang. Dari awal, film ini tidak malu-malu menunjukkan konflik apa yang akan dihadapi karakternya tanpa takut jika paruh kedua dan ketiganya akan monoton dan akan terasa hambar.

Dan untungnya, hal tersebut berhasil dibuktikan bapak Makoto Shinkai. Bukannya bosan, penonton malah dibuat penasaran tentang apa yang terjadi dalam film ini.

Saya suka dengan komedi yang dihadirkan dalam film ini. Alih-alih karakternya mencoba berlagak lucu, Suzume malah hadirkan momen-momen komedik dari situasi yang kadang tidak terduga.

Tidak dapat dipungkiri, kehadiran Serizawa dalam film ini sangat berperan penting. Selain dampak dirinya terhadap cerita, dia juga berhasil membuat saya tertawa dengan tingkahnya. Walaupun kehadirannya hanya intens di babak ketiga film ini, karakternya mampu dimaksimalkan dengan baik.

Momen penutupan "gerbang" yang terdapat dalam film ini juga mampu diperlihatkan dengan beda. Saya kira akan cenderung repetitif dan membosankan, ternyata tidak sama sekali, setiap gerbang memiliki ciri khas tersendiri yang harus dihadapi oleh Suzume dan sebuah kursi.

Tidak afdol rasanya jika tidak membicarakan tentang klimaks film ini. Mungkin saya termasuk orang yang kurang sreg sama ceritanya. Tidak ada kesalahan, namun saya rasa bisa jauh lebih intens daripada yang dihadirkan.

Ending film ini juga diam-diam tak terduga dengan menyimpan plot twist yang tidak disangka-sangka. Momen tersebut juga mampu membuat banjir air mata, apa yang ingin disampaikan bapak Makoto mungkin bisa saya tangkap dan saya serap.

Hanya satu kekurangan yang saya temukan ketika menonton Suzume, kualitas audio dari audi yang bisa-bisa bikin gendang telinga saya pecah. Tidak tahu apakah karena audinya yang bermasalah atau memang filmnya yang masang audio dengan volume maksimal, yang pasti beberapa momen seperti penutupan gerbang terasa mengganggu akibat audio yang dihasilkan kualitasnya tidak jempolan. Di beberapa kesempatan juga audionya terasa seperti speaker hajatan yang dipasang di perkampungan.

Untungnya, kekurangan tersebut masih bisa ditutup dengan indahnya film ini. Meskipun telinga saya bisa-bisa berdarah, tapi mata saya sepertinya dimanjakan dengan kualitas animasinya yang keren parah,

Overall, Suzume adalah sebuah awal yang baik bagi saya untuk berkenalan dengan karya-karya bapak Makoto berikutnya. Saran dari saya, pilih bioskop yang sudah kamu tahu kualitasnya memang bagus, hehehe...


8/10

Komentar

Postingan Populer