REVIEW - Ivanna
Setelah sajian menjenuhkan dari universenya lewat Danur 3: Sunyaruri, MD akhirnya memberanikan diri mambuat langkah berani dengan menggaet sutradara satu ini.
Kimo Stamboel hadir bak pahlawan yang menyelamatkan jutaan umat manusia dari bencana yang sudah seperti dipelihara oleh "Tuhannya".
Ivanna bisa menjadi sebuah titik balik dari Danur Universe, dan tentu saja membuat film selanjutnya memiliki beban seberat-beratnya.
Kali ini bukan tentang Risa, cerita lebih berfokus pada latar belakang Ivanna dan dendamnya terhadap rakyat Indonesia.
Sebuah terror dalam satu rumah setelah Ambar, Dika, Arthur dan Agus menemukan sebuah patung tanpa kepala di ruang bawah tanah.
Terror yang disajikan Kimo masih terasa liar dan brutal, namun ambience horrornya masih bisa dijaga dan ditata.
Tidak hanya tebar jumscare atau hanya menumpahkan darah para karakternya dimana-mana, usaha Kimo untuk bercerita juga masih bisa terasa.
Namun saya harus mengapresiasi pada satu buah adegan yang mungkin bisa dibilang silent jumscare yang sukses bikin saya loncat dari kursi.
Beberapa karakter yang mampu menarik empati penonton ketika mereka dalam situasi berbahaya dimainkan cukup apik oleh semua castnya.
Caitlin Halderman yang sebelumnya juga sudah pernah mengerjakan film bersama Kimo di Dreadout seperti biasa menampilkan kualitas akting yang mumpuni.
Kehadiran Tanta Ginting di tengah cerita juga bisa dibilang satu langkah yang cerdik, menambah warna emosi pada penonton.
Sayang, babak ketiga film ini cukup sedikit dipaksakan. Walaupun, pemaksaan tersebut masih terbilang bisa dimaafkan.
Overall, Ivanna hadir sebagai horror yang secara mengejutkan tampil solid dan menyeramkan disamping track record penulisnya yang lumayan mengherankan.



Komentar
Posting Komentar