REVIEW - Night Bus





Jarang agaknya filmmaker Indonesia membuat road movie, atau hanya saya yang mainnya kurang jauh?

Night Bus menjadi salah satu road movie buatan Indonesia yang sukses bikin penontonnya deg-degan sepanjang durasi. Konflik yang ditimbulkan memang besar dan mengancam membuat saya tak bisa diam.

Menceritakan tentang perjalanan menegangkan satu bus menuju Sampar dimana daerah tersebut merupakan daerah konflik yang rentan kontak senjata.

Karena hanya di satu tempat saja, karakter dalam film ini juga lumayan banyak dan secara mengejutkan semuanya tampil dengan ciamik bahkan sampai ke figuran-figurannya. Saya suka bagaimana reaksi mereka yang tidak tahu apa-apa hingga mendapatkan "bencana" yang luar biasa.

Para antagonis yang intimidatif diperankan secara jenius oleh aktor-aktor kawakan seperti Bapak Arswendy Bening Swara, Tio Pakusadewo serta Egi Fedly.

Satu aktor yang menarik perhatian saya adalah Alex Abbad, walaupun durasi kemunculannya terbilang singkat, dia mampu membawakan karakternya dengan begitu baik.

Semua dialog mengalir sepanjang durasi bergulir, hubungan antar karakter juga terjait dengan rapi dan natural.

Beberapa konflik yang timbul juga mampu membuat penonton merasakan ketakutan, dari mulai konflik bersama aparat atau bersama samerka. Terkadang, rasanya saya seperti kembali menonton film G30S PKI, Jagal dan Autobiography.

2 jam yang tidak terasa karena setiap menit diisi dengan adegan yang memang seharusnya ada dan tidak mengada-ngada.

Semakin panjang durasi, semakin intens pula konflik yang dihadapi orang para penumpang-penumpang ini.

Night Bus hadir dengan sangat ambisius, terbukti dari ceritanya hingga visualnya. Walaupun di klimaks memang keambisiusan tersebut harus tersaji dengan visual yang agak ancur-ancuran.

Namun dibalik kekurangannya, Night Bus berhasil menyuguhkan rasa baru dalam perfilman Indonesia.

Usaha yang dibangun berhasil terbayarkan dengan memenangkan piala citra sebagai film terbaik pada tahun 2017.



9/10




Komentar

Postingan Populer