REVIEW - Kajiman: Iblis Terkejam Penagih Janji

 



Maraknya trend film horor di tanah air membuat saya acap kali meragukan kualitas film tersebut kecuali jika memang sutradaranya sudah saya kenal berkat film-film sebelumnya.

Jujur saja, Kajiman menjadi salah satu horror yang saya ragukan, meskipun Tabula Rasa menjadi salah satu film Indonesia yang berkesan dari sang sutradara, tetap saja tema yang dibawakan tentang pesugihan membuat saya bosan mendengarnya.

Tetapi berkat ulasan positif dari beberapa reviewer yang saya tahu, akhirnya mau tidak mau saya harus mencoba debut horor dari Adriyanto Dewo ini.

Kajiman, secara mengejutkan tampil apik dan ditata benar dari segi cerita. Bermain-main dengan penonton bak The Wailing, film ini sukses memberikan suguhan teror yang terbilang segar dikala tsunami film horror yang tengah melanda.

Cerita akan berfokus pada Asha (Aghniny Haque), seorang perawat yang ditugaskan untuk merawat Ismail (Tyo Pakusadewo) yang sakit di rumah. Semenjak kematian ibunya, Asha memang harus melakukan kegiatan baru agar dia lebih tenang.

Sayang,  kegiatan baru tersebut malah membawa Asha pada suatu petaka yang berbahaya. Akhirnya dengan bantuan Ibu Rum (Mian Tiara) dan Rama (Jourdy Pranata) dia mencoba mengungkap sesuatu yang mengerikan tersebut.

Kajiman memang terkesan malu-malu dalam meramu jumscare, namun setiap adegan tersebut muncul sebagian besar memang terasa maksimal.

Dari sana saja sudah bisa diketahui jika yang dijual Kajiman bukan horor dengan parade jumscare yang memekakkan telinga.

Kajiman menyajikan kedalaman cerita yang terhitung baik bagi horor Indonesia kebanyakan. Misteri yang ditata rapi mampu membawa penonton ikut penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Twistnya memang mudah ditebak, tetapi bagaimana twist itu bisa terjadi, Andrianto Dewo dan Daud Sumolang sebagai penulis tidak sungkan memberikan clue-clue yang cukup berani dan membuat twist tersebut cukup berarti.

Tetapi sepertinya debut horror sang sutradara masih kelihatan canggung. Pengambilan gambar yang dominan statis membuat teror dalam film ini terasa kurang maksimal, padahal tata suara dan akting para pemainnya sudah juara.

Mungkin yang paling kentara adalah adegan ritual, coba saja Adrianto Dewo lebih kreatif dan putar otak untuk pengadeganan, bisa saja bagian tersebut akan menjadi bagian yang tidak bisa dilupakan. 

Alih-alih membuat penonton merasa tidak nyaman, adegan tersebut malah tampil seperti seorang pria yang sedang main dukun-dukunan.

Selain itu, film ini juga cukup gelap. Dalam beberapa adegan yang menyisipkan "penampakan" terkadang menjadi kurang kelihatan, bahkan tidak ada waktu untuk saya memperhatikan apa sebenarnya yang ingin ditunjukkan.

Banyak potensi yang bisa jauh digali dalam film ini, sayang sekali sang sutradara tidak bisa membuat Kajiman lebih mengerikan.


7,5/10

Komentar

Postingan Populer