REVIEW - The World of Us
Dari posternya saja kita bisa melihat dan menebak jika The World of Us akan menyajikan film drama anak-anak yang hangat tentang persahabatan mereka, namun benarkah demikian?
The World of Us nyatanya jauh lebih kompleks dari yang saya bayangkan sebelumnya, konflik yang klise namun mampu dikemas dengan baik oleh Ga-eun Yoon sebagai penulis dan sutradara.
Dengan pendekatan se-realis mungkin, film ini berhasil membawakan cerita tentang masalah bullying pada anak-anak dengan apik.
Libur semester telah tiba, semua siswa sekolah dasar mendapatkan libur panjang termasuk Sun (Choi Soo-in). Namun liburannya kali ini berbeda, dia bertemu dengan teman baru bernama Ji-ah (Seol Hye-in). Sun yang kerap dikucilkan teman-temannya merasa beruntung ketika dia bisa dekat dengan Ji-ah yang selalu bersama dengannya.
Namun saat tiba hari untuk masuk ke sekolah, tiba-tiba sikap Ji-ah pada Sun berubah. Entah apa salah Sun padanya hingga dia mulai menjauh. Lambat laun hubungan pertemanan mereka juga pudar dan satu persatu masalah timbul ketika mereka saling membenci.
Opening film ini dibuka dengan sangat kuat, memperlihatkan bagaimana kondisi sosial Sun di sekolah yang dikucilkan teman-temannya. Bagaimana perubahan ekspresi yang ditampilkan Sun dalam layar pelan-pelan mulai menarik penonton untuk berempati dengannya.
Dampak dari opening itu pun rasanya cukup berhasil untuk membuka gerbang menuju dunia baru ketika Sun bertemu dengan Ji-ah untuk pertama kali. Bagaimana mereka membangun hubungan dari perasaan yang sebenarnya sama-sama mereka rasakan.
Apa yang sebenarnya membuat Ji-ah tiba-tiba menjaga jarak dari Sun? Mungkin akan sulit untuk menemukan jawabannya jika saya kurang teliti menontonnya, namun jika ada pertanyaan seperti itu, mungkin bisa saya jawab karena Sun punya keluarga yang Ji-ah anggap sempurna, meskipun kenyataannya tidak.
Salah satu simbol menarik yang mungkin paling kuat menggambarkan film ini adalah cat kuku yang dibuat dari bunga oleh Sun. Bagaimana cat kuku berwarna merah yang seiring berjalannya waktu memudar seperti persahabatan mereka.
Ada kalanya cat kuku tersebut juga berganti warna ketika Sun seolah tidak punya hubungan pertemanan lagi dengan Ji-ah. Namun siapa sangka, warna baru tersebut juga perlahan pudar, bahkan lebih cepat dari si merah. Dan ketika warna baru pudar, ternyata masih warna dulu masih setia pada ibunya, jawaban ketika sebenarnya persahabatan mereka masih bisa diselamatkan, Sun dan Ji-ah masih menyimpan perasaan saling membutuhkan satu sama lain sebagai orang yang berlabuh di kapal yang sama.
Tidak bisa dipungkiri jika klimaks The World of Us memang kuat dan menyesakkan. Saat Sun dan Ji-ah saling melemparkan fakta tentang kehidupan satu sama lain terasa menyakitkan. Bagaimana realita sebenarnya yang menunjukkan jika Sun dan Ji-ah adalah dua orang yang sama.
Pada dasarnya memang manusia adalah makhluk sosial, terkadang kita akan melakukan segala sesuatu untuk mempunyai seorang teman, meskipun sebenarnya yang kita lakukan akan berdampak buruk di masa depan.
The World of Us berhasil menggambarkan itu semua dengan nyata sebagaimana adanya, Apa yang penonton lihat mungkin akan terasa seperti dunia yang benar-benar ada.
Film ini ditutup dengan resolusi manis berkat "nasihat" lugu dari adik Sun yang tanpa sadar menampar begitu keras tentang persahabatan. Ketika Sun dan Ji-ah kembali saling bertatap mata, kira-kira apa yang mereka rasakan sekarang?



Komentar
Posting Komentar