REVIEW - Beyond Evil

 


Sejak tiga tahun yang lalu, saya mencoba menonton drama Korea satu ini tetapi selalu gagal untuk mencapai titik akhir. Selama tiga tahun tersebut, setiap satu tahun sekali saya berusaha untuk mengikuti petualangan detektif dalam drama ini. Dan hari ini, akhirnya perjalanan itu berakhir.

Beyond Evil tak banyak saksikan adegan kekerasan atau pengejaran khas drama korea detektif kriminal lainnya, namun mereka punya daya tarik lain yang bisa membuat penonton betah untuk diam menontonnya.

Drama ini memperlihatkan seberapa jauh manusia bisa saling menjatuhkan lewat kata-kata. Perang psikis yang ditampilkan intens selama delapan eposide pertama jadi bukti jika penonton tidak perlu dicekoki banyak adegan aksi.

Dan barulah di episode yang tersisa, Beyond Evil mengambil cerita khas drama Korea lainnya. Membingungkan, bagi saya sih iya, tetapi seiring berjalannya episode demi episode lama kelamaan jadi terbiasa.

Satu yang mungkin bisa saya acungi jempol dari Beyond Evil, bagaimana mereka mengolah satu persatu karakternya untuk menggerakkan cerita tanpa adanya pemeran baru yang muncul secara tiba-tiba.

Konflik yang ditata agar orang yang terlibat itu-itu saja memang pada akhirnya mudah ditebak, tetapi masa bodoh dengan itu jika kita sudah peduli dengan semua karakternya.

Selain itu, delapan episode awal juga jadi ajang unjuk gigi bagaimana Beyond Evil bisa menyuguhkan misteri yang rapi. Twist yang bertebaran cukup efektif untuk mengejutkan penonton menyaksikan kejadian sebenarnya.

Namun, pindah ke episode sembilan Beyond Evil nampak mengendur. Fokus pada satu cerita tanpa ada hal yang baru mungkin akan membosankan bagi beberapa penonton. Bisa dibilang mereka hanya mengandalkan flashback dan twist sepanjang sisa episode.

[SPOILER]

.
.
.

Untungnya Beyond Evil tak lupa kemana tujuannya. Akhir yang sempurnya tentang bagaimana karakter dapat mewujudkan keinginannya dibungkus dengan cara yang cukup menyakitkan.


8/10

Komentar

Postingan Populer