REVIEW - Ladda Land
Sama halnya Indonesia, Thailand juga memiliki daya tarik kuat untuk film-film horrornya yang sudah tidak dipandang sebelah mata. Contoh saja The Medium yang menggemparkan baru-baru ini, atau Home for Rent karya sutradara Sopon Sukdapisit yang baru saya ajak kenalan lewat salah satu film ikoniknya "Ladda Land".
Cerita diawali dengan memperlihatkan tokoh utama yakni Thee (Saharat Sangkrapeecha) yang sedang membereskan rumah baru yang ia beli di Ladda Land. Hal tersebut adalah usaha dia untuk membuktikan kepada mertuanya jika dirinya bisa bertanggung jawab pada keluarga.
Dan akhirnya keluarga kecil mereka dapat berkumpul kembali, mulai dari istrinya Parn (Piyathida Mitrteeranoj), anak perempuannya Nan (Sutatta Udomsilp) dan anak bungsu Nat (Athipich Chutiwatkajornch).
Tetapi sayangnya Ladda Land menyambut mereka dengan kurang baik setelah satu tragedi mengerikan terjadi di sana.
Dicap sebagai master horor asal negeri Gajah Putih, tentu saja saya memasang ekspektasi yang cukup tinggi dan sayangnya tidak terpenuhi.
Sebenarnya Ladda Land tampil apik di babak pertama dengan menabur beberapa misteri yang asik untuk diikuti, siapa, mengapa dan bagaimana masih jadi pertanyaan yang menarik untuk diulik.
Namun sampai di tengah durasi fokus film ini mulai goyah dan terasa hilang arah, apa yang sebenarnya yang ingin Sopon highlight mulai berubah seiring waktu. Bukannya misteri yang ia gali, Sopon malah asik "menyiksa" karakter utama yang terkadang maksa di beberapa bagian.
Pertanyaan-pertanyaan yang timbul di awal bagaimana? sampai sekarang saya juga belum mengetahui jawabannya.
Keputusan bodoh yang karakter ambil di film ini juga kentara, saya tahu rata-rata film horor memang perlu menampilkan hal-hal bodoh agar penonton semakin greget, tapi beberapa keputusan di film ini ternyata lebih menjengkelkan.
Selain itu beberapa side story juga dibiarkan begitu saja, hanya segerintilan momen absurd yang entah datang darimana dan tidak ada gunanya.
Menghabiskan waktu selama hampir 2 jam sepertinya tidak perlu dilakukan, beberapa adegan bisa dihapus agar tidak terlalu mengganggu meski hasilnya sama.
Andai Sopon lebih fokus pada misterinya, mungkin Ladda Land akan jauh lebih menyenangkan.



Komentar
Posting Komentar