REVIEW - Oppenheimer #1
Memulai debutnya pada tahun 1988 lewat film Following, hingga saat ini Christopher Nolan dipandang sebagai salah satu sutradara dengan karya-karyanya yang tidak bisa dilihat sebelah mata. Selalu menuturkan cerita dengan konsep yang cukup rumit, bisa dibilang Nolan suka bermain-main dengan itu semua.
Demikian juga dengan film terbarunya, bisa saja Nolan membuat biopik seperti film-film kebanyakan, namun seperti biasa dia memilih jalannya sendiri. Bagaimana kali ini dia bermain-main dengan cerita yang nyata adanya?
Seperti judulnya, Oppenheimer akan memperlihatkan kepada kita bagaimana kehidupan bapak bom atom yang ternama. Awal perjalanan dia sebagai orang yang membawa pelajaran fisika kuantum hingga projek "Trinity".
Memangnya bisa menonton film Oppenheimer hanya satu kali? Bisa saja jika kamu memiliki pemahaman yang cukup tentang cerita tersebut. Tetapi jika kamu sama sekali belum mengetahui apa-apa tentang film ini, saya rasa tidak cukup.
Akan ada banyak tokoh-tokoh ilmuan yang muncul di babak pertama dan ceritanya mungkin bagi saya terkesan terburu-buru. Cukup sulit untuk memahami satu persatu karakter yang muncul ketika tempo yang dihadirkan lumayan cepat.
Tetapi untungnya di babak kedua dan ketiga temponya menjadi stabil, Nolan tahu kapan harus injak gas dan injak rem.
Politik, satu kata yang saya belum suka jika sedang menonton film. Alih-alih fokus pada sains dan eksperimen, sang sutradara lebih menekankan unsur politik pada filmnya. Tapi semua ini termaafkan, toh adegan-adegan yang ditampilkan sangat menarik untuk disimak.
Cillian Murphy menarik perhatian, setelah lima film kolaborasinya dengan Nolan, akhirnya dia mendapatkan peran utama dan tampil benar-benar gila.
Banyak informasi penting yang disampaikan lewat dialog-dialog para karakternya, oleh karena itu siapkan mata dan telinga kamu untuk jeli melihat dan mendengar apa yang mereka bicarakan.
Satu jam terakhir mungkin jadi bagian paling menegangkan dalam film ini, eksperimen "Trinity" hingga tragedi pasca Hiroshima Nagasaki dikemas dengan sangat apik dan menakjubkan. Ketegangan yang dihadirkan mampu tersampaikan dengan baik.
Hal tersebut didukung dengan tata suara yang juara, Ludwig Göransson selalu bisa membuat alunan musik yang megah dan mewah.
Ketika ketegangan tersebut muncul, scoring yang timbul menambahkan seribu
persen ketegangan dalam pengambilan gambarnya.
Urusan visual mungkin sudah tidak diragukan lagi, direkam dengan kamera IMAX paling canggih membuat mata penonton termanjakan. Apalagi keputusan Nolan yang tidak menggunakan CGI untuk filmnya kali ini menjadikannya terasa begitu organik.
Pada akhirnya, tidak puas rasanya menonton Oppenheimer hanya satu kali, butuh dua sampai tiga percobaan lagi untuk benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Oh ya, ending film ini mindblowing...
8,5/10



1998 anjir, bukan 1988
BalasHapus-Ade