REVIEW - Joy Ride
Film Hollywood yang mengangkat kultur Asia selalu menarik perhatian saya, mencari tahu apa saja hal yang relate dalam kehidupan karakter dengan orang-orang nyata di sini menjadi salah satu alasan film-film tersebut punya tempat spesial di dalam hati.
Termasuk Joy Ride, kala trailer resminya dirilis beberapa bulan yang lalu, mereka mampu menunjukkan bagaimana keseruan film tersebut hanya dalam hitungan beberapa menit. Namun berkaca dari kejadian sebelumnya, menurunkan ekspektasi adalah kunci untuk mendapatkan tontonan yang bisa jauh lebih dinikmati.
Dan ternyata berhasil, datang dengan ekspektasi yang cukup rendah membuat saya sangat menikmati seluruh durasi film ini.
Sama seperti judulnya, Joy Ride akan mengikuti perjalanan bisnis Audrey (Ashley Park) bersama dengan sahabatnya Lolo (Sherry Cola) dan Kat Huang (Stephanie Hsu) serta satu orang lain bernama Deadeye (Sabrina Wu).
Mereka berempat harus mengikuti Audrey untuk mendapatkan kontrak dengan kliennya di negeri tirai bambu. Namun, perjalanan mereka ternyata tidak semudah yang dibayangkan karena beberapa kejadian yang membuatnya menjadi lebih menyenangkan.
Dari awal, film ini sudah menunjukkan seperti apa jati dirinya secara gamblang, opening yang mungkin akan disukai banyak penonton karena langsung meriah tanpa ina-inu. Dan dari sana, akan muncul segala keliaran yang mungkin belum pernah saya tonton selama ini pada film lain.
Seperti yang sudah saya katakan di awal, Joy Ride mengangkat kultur Asia sebagai senjata utamanya. Dan secara mengejutkan, banyak sekali hal-hal menarik yang sangat relate dengan kehidupan nyata. Bagaimana mereka berperilaku, keputusan yang mereka ambil hingga gerak gerik karakter mungkin bisa kamu temukan di tempat tinggal kamu.
Selain itu, banyak sekali tawa yang timbul berkat variasi komedi yang dihadirkan. kombinasi komedi Asia dengan Amerika dalam film ini bisa menjadi salah satu film paling lucu yang pernah saya tonton.
Tak lupa, muatan dewasa dalam film ini juga sangat-sangat kental, tak ayal jika Joy Ride punya label 21+ (maaf saya melanggar peraturan), tetapi memang banyak momen-momen shocking bagi saya yang mungkin sudah biasa bagi orang dewasa.
Beberapa plot twist terutama di bagian akhir juga menjadi bumbu penyedap yang pas, meski mudah untuk ditebak namun Adele Lim sebagai sutradara bisa membuat itu menjadi salah satu momen dengan emosi paling meledak dalam film ini.
Sebenarnya, jika kamu fokus pada ceritanya mungkin tidak ada yang spesial dan film lain juga sudah pernah menghadirkannya, namun Cherry Chevapravatdumrong dengan Teresa Hsiao sebagai penulis mampu mengemasnya menjadi baru kembali.
Pada akhirnya, Joy Ride menjadi salah satu hiburan yang paling pas untuk kamu jika ingin tertawa sepanjang 95 menit di bioskop. Melihat bagaimana sisi liar perempuan dan banyak isu-isu lain yang dibicarakan dalam film ini mungkin juga akan membuka mata kamu untuk melihat bagaimana orang Asia dipandang dan orang Asia memandang.
Oh ya, terakhir mungkin mau berterima kasih kepada LSF karena tidak memotong salah satu golden scene film ini.



Komentar
Posting Komentar