REVIEW - Sleep Call

 


Setelah sukses lewat Inang yang berhasil merebut hati banyak penonton ketika keluar dari zona nyamannya, kali ini Fajar Nugros kembali dengan ide baru yang tentunya masih mengeksplorasi sejauh mana dia bisa melewati batas.

Mengambil genre suspense thriller yang masih belum banyak diramu oleh sineas-sineas kita, Sleep Call hadir sebagai penawar dikala banyak orang bicara kalau film Indonesia itu-itu aja. Tapi apakah kali ini berhasil? Sayangnya tidak.

Mengikuti karakter bernama Dina (Laura Basuki) seorang wanita yang terpaksa harus bekerja di sebuah agen pinjaman online illegal karena satu kejadian membuatnya selalu kesepian dan mencari pelarian, hingga salah satu temannya Bella (Della Dartyan) merekomendasikan aplikasi kencan online untuk dia mainkan.

Lambat laun Dina mulai tenggelam di dunia maya, selalu melakukan panggilan ketika malam tiba atau yang biasa kita sebut sleep call. Namun semakin lama, hal yang ia lakukan justru malah membahayakan nyawa orang di sekitarnya.

Opening film ini akan mengejutkan bagi sebagian orang, karena mengusung genre yang belum banyak dieksplorasi oleh film Indonesia, Fajar Nugros mungkin ingin membuat penonton langsung tertarik dan terus terjaga hingga akhir cerita.

Sayang, babak pertama terkesan terlalu buru-buru. Transisi dari adegan satu ke adegan lain rasanya terlalu cepat. Husein M. Atmodjo dan Nugros selaku penulis seperti dibatasi waktu hingga lupa menikmati beberapa momen di dalam filmnya.

Tetapi untungnya, perlahan mereka mulai menemukan tempo yang pas. Setelah turning point pertama Sleep Call mulai bisa santai dan tidak grasak-grusuk. Saya juga sudah mulai bisa mengikuti film ini dengan baik daripada bagian awal.

Salah satu hal yang saya suka dari film ini adalah bagaimana mereka membuat cerita yang sangat membumi. Banyak isu-isu yang diangkat, membicarakan soal wanita, realita kehidupan ibu kota hingga kesenjangan sosial sempat disentil oleh Sleep Call.

Bahkan bagian cerita Rama Sinta yang mungkin jadi simbol utama cerita film ini nantinya. Bagaimana hubungan antara mereka berdua adalah gambaran besar beberapa keputusan yang diambil oleh Dina.

Dan tentu saja karena ini Fajar Nugros, selalu ada momen-momen komedi menggelitik yang dapat mencairkan suasana.

Selain itu, Sleep Call juga dikemas dengan visual yang sangat cantik dan jarang agaknya ditemukan dalam film Indonesia lainnya. Wendy Aga sebagai sinematografer mampu menangkap gambar dengan ciamik dan mengahsilkan salah satu tontonan paling enak untuk dilihat sejauh ini.

Dari segi pemain, Laura Basuki memang pantas menjadi highlight utama, permainan emosi dengan cakupan yang cukup luas membuat pemain lain sulit untuk mengimbanginya, termasuk Bio One.

Maafkan twist di akhir yang tidak terlalu baru juga, tetapi bagaimana karakter dan ceritanya ingin mencapai titik tersebut saya kira masih perlu digodok lebih lama. Entah saya gagal memperhatikan filmnya dengan baik atau memang seperti itu adanya.

Dan akhirnya, Sleep Call adalah percobaan kedua sang sutradara keluar dari zona nyaman dengan hasil yang belum memuaskan.


5/10


Komentar

Postingan Populer