REVIEW - Jatuh Cinta Seperti di Film-Film




Pernah gak sih kalian melihat, menonton atau bahkan mendengar sesuatu yang membuat kalian bergumam "kok bisa kepikiran ya orang bikin ini?" Jatuh Cinta Seperti di Film-Film membuat saya merasakan hal tersebut.

Kita akan mengikuti Bagus (Ringgo), seorang penulis skenario yang akhirnya mendapatkan kesempatan untuk membuat cerita original pertamanya dan sekaligus juga menjadi sutradara.

Ditengah kegelisahannya mencari ide cerita, tiba-tiba wanita yang ia suka semasa SMA bernama Hana (Nirina) muncul dihadapannya, yang membuat Bagus mempunyai ide tentang bagaimana jika pertemuannnya dengan wanita tersebut ia tulis menjadi film pertamanya.

Langkah awal inilah yang akhirnya akan membuat perjalanan kisah cinta mereka menjadi sebuah tontonan yang "segar" sepanjang durasi.

Jatuh Cinta Seperti di Film-Film punya daya tarik sendiri selain dari segi ceritanya, dari awal mungkin kamu akan takjub dengan bagaimana transisi film ini dari berwarna ke hitam putih. Sebuah detail kecil yang punya dampak besar.

Film ini memang ingin fokus untuk menggali lebih dalam kepada masing-masing karakternya. Rasio yang lebih sempit kala film ini masih berwarna, hingga rasio yang mulai melebar ketika warnanya pudar membuat mata penonton seakan memang diarahkan untuk melihat karakternya secara detail bahkan dari tatapan matanya.

Keputusan Yandy sebagai sutradara untuk membuat film pertamanya didominasi tak punya warna memang salah satu keputusan yang paling tepat. Mengangkat cerita tentang duka dan ego dari masing-masing individu soal cinta mungkin akan membuat semuanya terlihat hitam dan putih.

Ah, membicarakan soal cinta di film ini memang terkesan sangat rumit. Ada Hana yang terus dilanda rasa duka hingga menutup hati dari cinta, dan di sisi lain ada juga Bagus yang terus memberi makan egonya terus menerus dengan meromantisasi semua kejadian di kepalanya sendiri. Lantas, siapa sebenarnya yang salah di sini?

Dua karakter tersebut punya perspektif kuat soal "cinta". Satu kata yang awalnya punya arti berbeda bagi keduanya. Kita sebagai penonton juga akhirnya akan disuguhkan tentang perbedaan manusia  memahami dan menerima cinta.

Tak hanya itu, berdamai dengan duka juga jadi salah satu poin penting dari film ini. Bagaimana manusia menghadapi duka dan harus mulai menerimanya menjadi sebuah perjalanan yang menarik untuk terus diikuti.

Daya tarik lain dari film ini mungkin bisa saya kutip dari dialog Bagus yang kurang lebih berkata, "kenapa sih di film tuh semuanya harus heboh, harus bigger than life, padahal bisa juga dikemas sederhana, dan kayak kejadian nyata aja."

Berangkat dari sana, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film akhirnya punya gaya cerita membumi yang jauh menusuk hati kala semua adegan, dialog dan tingkah laku karakternya dedesign seperti kehidupan sehari-hari.

Namun tak afdol rasanua jika tidak membiacarakan soal penampilan kelas atas yang ditunjukan para pemerannya. Ada Ringgo yang selalu bisa memainkan simpati penonton lewat gestur dan mimik wajahnya, Nirina yang dari awal kemunculannya saja sudah membahana, Alex Abad yang sukses membuat ketawa hingga duet maut Dion dan Sheila yang gak ada dua.

Sulit rasanya bagi sineas kita untuk kembali mempunyai film seperti ini, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film adalah sebuah perayaan, perayaan bagi orang yang sedang jatuh cinta, berduka, dan para pelaku serta peminat sinema.

Akan jauh lebih panjang jika saya terus membicarakan film ini dalam kata-kata. Tapi pada akhirnya, bisa saya katakan jika salah satu mahakarya Indonesia satu ini akan terus menjadi salah satu film terbaik sepanjang masa.


10/10

Komentar

Postingan Populer