MEMBICARAKAN FILM PENGEPUNGAN DI BUKIT DURI
Kenakalan remaja hingga kini memang masih menjadi hal yang sulit dihindarkan, namun bagaimana jika kenakalan-kenakalan tersebut disebabkan oleh sistem negara yang seolah memberikan dorongan untuk memperburuk keadaan?
Pengepungan di Bukit Duri bisa jadi acuan, mimpi buruk yang akan terjadi jika kita membiarkan semua hal-hal tersebut tetap mengakar, bahkan bisa saja lama makin kuat membentuk sesosok monster besar yang bisa mengamuk dan menghancurkan kapan saja.
Perjalanan kita akan dipandu oleh Edwin, seorang guru yang mempunyai kepentingan pribadi untuk mencari anak dari kakaknya hasil dari kejadian kelam yang menimpanya. Dari sana lah Edwin pergi dari sekolah satu ke sekolah lain untuk mencari siswa tersebut sampai akhirnya tiba di SMA Bukit Duri yang ternyata berubah menjadi neraka bagi Edwin.
Membuat film yang cuma punya satu latar tempat memang bisa dibilang sangat tricky, bagaimana penulisan adegan dan dialog yang atraktif jadi bahan bakar agar penonton tetap mau mengikuti filmnya kala tempat dan karakter yang ditampilkan hanya itu-itu saja.
Paruh awal Pengepungan di Bukit Duri sangat amat menjanjikan, dibuka dengan adegan besar yang digarap dengan sangat apik membuat dunia filmnya bisa tampil maksimal dan believeable untuk kemudian berlanjut hingga akhir film.
Banyak sekali pujian saya akan berikan kepada semua departemen yang berjasa untuk membuat dunia film ini menjadi hidup, mulai dari kota yang chaos sampai sekolah yang terasa seperti penjara.
Namun tentu saja, latar tempat tidak menjamin filmnya akan baik jika tidak dibarengi dengan para manusia yang bermain di dalamnya. Pengepungan di Bukit Duri punya banyak senjata pamungkas di jajaran pemainnya. Dari Morgan Oey sampai Omara Esteghlal tampil ciamik memainkan ekspresi dan dialognya. Suka sekali bagaimana Joko Anwar memberikan dialog yang memang dikhususkan untuk generasi z ketika Jefri dan gengnya bercengkrama.
Tapi... seperti yang disebutkan di atas, film dengan latar satu tempat memang akan mempunyai risiko monoton di paruh tengah karena tidak adanya konflik baru yang hadir. Termasuk di film ini, memang cerita terus berjalan dan konflik-konflik kecil muncul, namun rasanya draggy sekali ketika satu adegan terus diulang. Tak banyak, tapi sedikit menurunkan intensitas ketika menonton.
Walaupun sebenarnya penonton juga butuh istirahat sejenak, namun bukan berarti mengulang-ngulang adegan yang ditampilkan.
Untungnya Joko Anwar selalu hadir dengan pasokan shocking moment yang memang benar-benar buat rahang terbuka cukup lebar. Beberapa adegan explisit dan diluar dugaan berhasil membuat saya kembali ke jalan yang benar saat menonton film ini. Rasanya ditampar air ketika sedang tertidur...
Overall Pengepungan di Bukit Duri adalah usaha Joko Anwar untuk memotret keadaan sebuah negara ketika hal-hal buruk dibiarkan bahkan didukung dengan halus... dan bisa dibilang, Joko Anwar berhasil gambarin itu semua lewat satu bangungan dan satu situasi saja.



Komentar
Posting Komentar