MEMBICARAKAN FILM PANGKU

 



Rasanya tak butuh waktu lama bagi Pangku untuk menunjukkan bagaimana keseluruhan filmnya berjalan bahkan di menit pertama ia dimulai. Opening scene yang sudah memperlihatkan stigma negatif dari cara laki-laki memandang perempuan pada prakteknya terus dibawa oleh Reza Rahadian serta Felix K. Nesi sebagai penulis membawa keresahan mendalam yang jadi penggerak cerita hingga kredit film berakhir.

Pangku adalah realita menyakitkan yang dibungkus narasi sederhana serta jujur yang entah mengapa masih terasa indah dan lembut. Bagaimana bisa sebuah kepedihan bisa dibungkus dalam kemasan sangat cantik yang ternyata berbanding terbalik dengan isi di dalamnya.

Reza memperlihatkan bagaimana terbatasnya ruang perempuan dalam lingkungan yang didominasi oleh para pria dan cara mereka bertahan dalam ekosistem tersebut membuka mata jika hal ini juga diam-diam didukung oleh negara.

Gagalnya pemerintah untuk membuat perempuan setara secara tidak langsung terus memelihara adanya praktek patriarki di negeri ini. Aturan-aturan kecil yang berdampak tak hanya pada perempuan, tapi pada anak-anak yang harusnya punya hak untuk menuntut ilmu sebagaimana mestinya.

Namun di tengah keresahan tersebut, pada akhirnya Pangku berhasil memanusiakan manusia. Reza berhasil menyetarakan perempuan dengan caranya sendiri, memuliakan perempuan seperti seorang anak yang mengabdi pada ibunya. 


Hal di atas yang membuat Pangku menjadi film yang dewasa secara emosional, melihat ketulusan para pembuatnya dalam menjunjung tinggi perempuan menjadikannya terang di tengah kegelapan. Bagaimana sebuah gerobak mie ayam jadi gambaran perlawanan dan pembuktian jika perempuan bisa melawan, bisa keluar dari ekosistem racun yang diciptakan oleh pria dan pemerintahnya.

Dari segi teknis, baik visual maupun suara dari Pangku, semuanya terasa nyata indahnya. Bagai lukisan bergerak yang diramu dengan baik oleh Teoh Gay Hian serta tata suara dari Ricky Lionardi yang melengkapi kombinasi sempurna dibaliknya.

Bergeser sedikit pada para pemeran-pemerannya yang berhasil menghidupkan karakternya dengan baik. Sebut saja Claresta Taufan sebagai pemeran utama yang berhasil mencuri perhatian dengan ekspresi-ekspresi subtil tanpa dialog namun masih bisa membawa emosi yang besar lewat matanya. Christine Hakim the one and only hadir menjadi ibu kita semua yang bisa mengayomi, sulit rasanya tidak jatuh cinta pada Ibu Christine di film ini. Tentu tak hanya mereka berdua, semua pemeran di dalam film ini sudah memperlihatkan penampilan terbaiknya masing-masing di dalam layar.

Kehadiran Reza sebagai sutradara dengan jam terbang aktor sangat mumpuni membuat film ini punya rasa empati yang besar terhadap tiap karakternya. Reza mengerti betul bagaimana treatment tiap orang untuk menghantarkan dialog serta gerakan tubuhnya. Mungkin hal tersebut juga yang membuat film ini terasa makin "manusiawi" di beberapa bagian.

Pada akhirnya Pangku hadir sebagai nafas baru bagi perfilman Indonesia, nafas baru bagi para perempuan kuat yang hingga saat ini masih melawan sistem sosial dan negara yang memandang mereka sebelah mata serta nafas baru bagi para ibu yang terus berjuang demi anaknya.


Komentar

Postingan Populer